Wednesday, January 14, 2009

Hijrah Menuju Kerukunan Umat Beragama

Bentrok antar umat beragama, debat kusir para agamawan berbeda keyakinan dalam pelbagai forum terbuka, sampai tragedi pengeboman mengatasnamakan jihad di tempat-tempat ibadah adalah potret buram yang masih menyesaki mata kita. Yang terakhir disebut memiliki dampak yang luar biasa; dan dalam beberapa tahun terakhir sukses menuntut hilangnya puluhan nyawa orang tak berdosa. Di samping sistem filsafat, agama memiliki daya pengaruh yang luar biasa terhadap pemeluknya. Para pemeluk yang militan dan ekstrim akan melakukan apapun demi membela keyakinannya itu. Ikhlas, lillahi ta’ala, berani mati, adalah kemasan bahasa mereka dalam memaknai keyakinan mereka itu.

Atas dasar keyakinan, seseorang berani mengorbankan nyawanya sendiri melalui bom bunuh diri. Jihad, dalam Islam, telah keliru dipahami menjadi melulu tindakan bom bunuh diri atau lebih dikenal terorisme. Sebuah tindakan yang sama sekali tidak menghiraukan sisi destruktivitasnya yang dahsyat. Sebaliknya, potongan tubuh manusia, ceceran darah dan tangisan keluarga korban adalah tawa kemenangan mereka dan pahala di sisi Tuhan mereka sendiri.
Membendung Benih Terorisme

(nyaris) Mustahil bahwa agama mengajarkan dan menganjurkan
tindak kekerasan. Agama apapun menebarkan ajaran yang mengerucut pada kesatuan pemahaman, agama adalah rahmat bagi diri, lingkungan, dan alam secara keseluruhan. Tidak ada agama yang menganjurkan pemeluknya untuk membuat onar, kericuhan, keresahan di tengah masyarakat, dan segala bentuk tindak pengrusakan lainnya di muka bumi. Karenanya, jihad yang mengambil bentuk dalam wajah terorisme, samasekali bukan representasi ajaran Islam kâffah dan bertentangan dengan konsep asasi Islam--“Al-Islam Huwa Rahmatan Li Al-‘Alamin”.

Lahirnya ekstrimitas pemahaman yang berujung tindakan radikal-destruktif adalah bentuk kegagalan mamaknai Islam secara utuh. Dalam wacana Islam kontemporer,
gerakan dan pemahaman yang demikian disebut Neo-Khawarij--merujuk pada peristiwa arbitrase Ali dengan Mu’awiyah. Kini, Neo-Khawarij itu mewujud dalam ragam gerakan fundamentalisme Islam yang mapan dan rapi.

Bahaya ekstrimitas, karenanya, mesti segera dibendung semua pihak. Jika dibiarkan, tragedi memilukan Bali (I & II), tak menutup kemungkinan, akan kembali terjadi.

Akar terorisme, salah satunya, bertolak dari kekeliruan memahami Islam. Sempitnya pengetahuan dan dangkalnya pemahaman memunculkan bentuk gerakan anarkis dan destruktif para teroris. Karenya, Salah satu jalan memangkas tumbuh suburnya pemahaman ekstrim atas Islam ialah dengan mengampanyekan pemahaman yang utuh dan luas tentang Islam.

Ahlussunah wal jamaah, tampaknya, menjadi semangat yang mewakili Islam. Karena paham Aswaja mewakili makna Islam yang lebih toler
an dan berwajah ramah. Aswaja menawarkan Pemahaman yang moderat yang, sampai detik ini, tampaknya paling relevan. Bermodal pemahaman Islam yang moderat, sikap keberagamaan akan dengan sendirinya berproses menuju baik. Salah satunya, lantaran sikap sosio-religius bertolak dari bangunan keyakinan dan dasar pemahaman keberagamaan.
Menggali Tauladan

Menumbuhkan dan memperbaiki pemahaman keberagamaan menuju yang lebih toleran mutlak dibutuhkan. Hal itu dalam rangka menghidupkan kembali kebersamaan dan kerukunan yang selama ini pudar. Pada giliranny
a, totalitas perubahan cara pandang sekaligus sikap keberagamaan dapat menyumbang energi besar guna menciptakan kerukunan dan kesediaan hidup berdampingan antar agama.

Tarikh perilaku Nabi menjadi inspirasi yang takkan pernah kering yang menggambarkan tauladan sikap; bagaimana semestinya membangun kerukunan umat beragama. Perilaku Nabi tak hanya memberi inspirasi dan konsep, akan tetapi sekaligus menghadirkan realitas bagaimana moderasi pemahaman dan sikap keberagamaan beliau mampu membangun kerukunan di Madinah. Sebuah kota pertama di dunia yang mampu membuktikan bahwa perbedaan bukan bencana tetapi rahmat. Madinah, mampu mengikis bahasa etnosentrisme, chauvimisme, dan sukuisme sempit dan ekstrimitas, khususnya bagi pemeluk Islam. Karena itu, sebagai seorang muslim mestinya mampu berkaca pada akhlak
Nabi Muhammad mengenai bagaimana semestinya berpikir, bersikap, dan berprilaku Islami.

Semangat pluralitas telah tercermin dari pribadi Nabi. Kesadaran bahwa perbedaan adalah rahmat menuntun Nabi untuk tidak memaksakan kehendaknya pada orang lain, termasuk persoalan agama. Para pemeluk non-muslim dibiarkan hidup berdampingan dan memiliki hak yang sama sebagai warga Negara Madinah. Nabi mewajibkan setiap muslim untuk menghormati non-muslim sebagaimana layaknya dan tindakan menyakiti mereka samahalnya menyakiti Nabi (al-Hadits).


Cukup dengan berkaca pada akhlak Nabi, para sahabat, dan orang-orang saleh salaf kita akan punya bekal untuk memahami betapa kerukunan antar umat beragama bukan s
ekedar wacana. Yang dibutuhkan saat ini adalah niat dan komitmen dari seluruh pemeluk agama,
should be like this


Persahabatan

Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Artikel ini memusatkan perhatian pada pemahaman yang khas dalam hubungan antar pribadi. Dalam pengertian ini, istilah "persahabatan" menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, seringkali hingga pada altruisme. selera mereka biasanya serupa dan mungkin saling bertemu, dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka.
Nilai yang terdapat dalam persahabatan seringkali apa yang dihasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan secara konsisten:
* kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain.
* simpati dan empati.
* kejujuran, barangkali dalam keadaan-keadaan yang sulit bagi orang lain untuk mengucapkan kebenaran.
* saling pengertian.
Seringkali ada anggapan bahwa sahabat sejati sanggup mengungkapkan perasaan-perasaan yang terdalam, yang mungkin tidak dapat diungkapkan, kecuali dalam keadaan-keadaan yang sangat sulit, ketika mereka datang untuk menolong. Dibandingkan dengan hubungan pribadi, persahabatan dianggap lebih dekat daripada sekadar kenalan, meskipun dalam persahabatan atau hubungan antar kenalan terdapat tingkat keintiman yang berbeda-beda. Bagi banyak orang, persahabatan dan hubungan antar kenalan terdapat dalam kontinum yang sama.
Disiplin-disiplin utama yang mempelajari persahabatan adalah sosiologi, antropologi dan zoologi. Berbagai teori tentang persahabatan telah dikemukakan, di antaranya adalah psikologi sosial, teori pertukaran sosial, teori keadilan, dialektika relasional, dan tingkat keakraban. Lihat Hubungan antar-pribadi

prinsip dasar mencari temen

lebih mudah cari musuh ketimbang cari temen, bahkan jadi sahabat. Ada beberapa hal yang dapat Q'ta lakuin bwt dapetin temen sejati/ sahabat, hal tsb dimulai dari ;
  1. lakukan penghargaan di 30 detik pertama, misal (ungkapan luar bisa, makasih, dsb)
  2. Jangan berdebat;
  3. Cari terus alasan yang sesungguh, akan pembicaraan/ topik yg dia lawan bicara Q'ta omongin, dan "iya-kan"/ "benarkan" hal tersebut;
  4. bersikaplah simpati dan empati, saat perbincangan terjadi;
  5. gali potensinya, lebih banyak bicara tentang hal positif yg dimilikinya.
Cukup dulu segitu, LAKUKAN, JANGAN MENUNDA, PASTI BERSHASIL......!